Aparat dan Warga Bersatu Padu Menghidupkan Kembali Budaya Gotong Royong di Medan Satria

Megapolitan, News130 Dilihat

Bekasi, Nasionalreview – Pagi itu, langit di atas Kecamatan Medan Satria tidak hanya disinari oleh matahari, tetapi juga oleh semangat kolektif yang jarang terlihat dalam skala sebesar ini. Ribuan pasang tangan, mengenakan rompi oranye khas Satpol PP dan hijau Satlinmas, bergerak serempak di sepanjang Jalan Pangeran Jayakarta. Ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa; ini adalah deklarasi nyata bahwa Kota Bekasi sedang bertransformasi, menghidupkan kembali napas “gotong royong” yang sempat tergerus zaman. Kamis, (23/4 /26)

 

Di bawah terik cuaca Kamis (23/4) ini, sekat-sekat antara aparat penegak peraturan dan warga sipil seolah lebur. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang memberikan instruksi langsung, tampaknya berhasil menerjemahkan visi birokratis menjadi aksi membumi. Komando tersebut direspons cepat oleh Kepala Satpol PP Kota Bekasi, Nesan Sujana, yang memilih turun langsung memimpin barisan, bukan sekadar memberi perintah dari belakang meja.

“Ini tentang mengembalikan martabat ruang publik kita,” ujar Nesan di sela-sela aktivitasnya mengangkat tumpukan sampah yang telah menumpuk di bahu jalan. Suaranya terdengar lantang, namun penuh kehangatan saat berinteraksi dengan para Ketua RT dan RW yang turut serta membawa cangkul dan sapu lidi. “Kami ingin menunjukkan bahwa Satpol PP dan Linmas hadir bukan hanya untuk menertibkan, tetapi juga untuk melayani dan menjadi contoh. Ketika aparat bekerja keras bersama warga, pesan itu sampai lebih dalam daripada ribuan surat edaran.”

Suasana di lokasi aksi terasa hidup dan cair. Di satu titik, seorang anggota Dinas Lingkungan Hidup terlihat berdiskusi akrab dengan pedagang kaki lima mengenai penempatan tong sampah yang lebih strategis, tanpa nada menggurui. Di titik lain, personel Bina Marga dan SDA bersama warga bergotong royong membersihkan saluran drainase yang selama ini menjadi sumber bau tidak sedap dan potensi banjir. Tawa dan sapaan saling bersahutan, mengubah narasi ketegangan yang sering melekat pada operasi penertiban menjadi harmoni kerjasama.

Jajaran satuan polisi pamong praja kota Bekasi Satlinmas, bergerak serempak di sepanjang Jalan Pangeran Jayakarta. Ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih melainkan menghidupkan kembali napas “gotong royong” yang sempat tergerus zaman.

 

Partisipasi warga menjadi sorotan utama hari ini. Banyak warga yang awalnya hanya menonton, akhirnya terpanggil untuk ikut terjun. Seorang ibu rumah tangga di wilayah Medan Satria, Siti Aminah (45), mengaku tersentuh melihat keseriusan para petugas. “Biasanya kalau ada Satpol PP, kami malah takut digusur atau ditilang. Tapi hari ini beda. Mereka turun tangan langsung, keringatan bersama kami. Rasanya malu kalau cuma lihat saja. Ini kampung kami, kenapa tidak kita jaga bersama?” ungkapnya sambil menyapu daun-daun kering.

Nesan Sujana menekankan bahwa momen langka ini harus dijadikan titik balik budaya masyarakat. “Kehadiran Bapak/Ibu sekalian, para Ketua RT, RW, dan seluruh warga, adalah bukti bahwa gotong royong belum mati di hati orang Bekasi,” katanya dengan mata berbinar. “Kami tidak bisa bekerja 24 jam sendirian. Kebersihan dan ketertiban ini adalah tanggung jawab bersama. Apa yang kita lakukan hari di Jalan Pangeran Jayakarta hingga Flyover Kranji, harus menjadi virus positif yang menular ke setiap gang dan sudut kota.”

Aksi massal ini menghasilkan perubahan visual yang signifikan dalam waktu singkat. Jalur protokol yang sebelumnya kusam oleh debu dan sampah plastik, kini tampak segar dan tertata. Namun, lebih dari itu, yang tersisa adalah jejak solidaritas. Jejak bahwa ketika pemerintah dan rakyat bergerak dalam satu frekuensi, tidak ada masalah kebersihan atau ketertiban yang terlalu besar untuk diselesaikan.

Sebagai penutup aksi, Nesan mengajak seluruh elemen yang hadir untuk berkomitmen menjaga hasil kerja keras ini. “Mari kita jadikan Medan Satria sebagai percontohan. Bukan hanya bersih hari ini, tapi bersih selamanya karena kesadaran kita semua. Inilah wajah baru Bekasi: kota yang manusiawi, disiplin, dan tumbuh dari kekuatan warganya sendiri.”

Dengan berakhirnya aksi siang itu, harapan baru turut terbit di Bekasi. Bahwa di era modern ini, teknologi dan regulasi memang penting, namun jiwa gotong royong tetaplah mesin utama yang menggerakkan roda. (Egi)