Jakarta, nasionalreview – Memeriahkan HUT ke-498 Jakarta, Museum Kesejarahan Jakarta, dulu dikenal, sebagai Museum Fatahilah, menggelar diskusi publik dan peluncuran buku ‘Wapen Van Holland’, setangle puisi sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta, karya Chairil Gibran Ramadhan.
Chairil Gibran adalah sastrawan dan budayawan Betawi asal Kampung Pondok Pinang, Jakarta. Dan juga penggemar sejarah.
.
Kepala UP Museum Kesejarahan Jakarta Esti Utami menuturkan, peluncuran buku ‘Wapen Van Holland’ karya Chairil Gibran Ramadhan yang akrab disapa Bang CGR, sangat pas karena bersamaan dengan HUT ke-498 Jakarta.
Esti menambahkan, selain itu kerja sama ini merupakan salah satu wujud dan komitmen pihaknya menjadikan museum – museum dibawah Unit pengelola museum kesejarahan Jakarta sebagai ruang publik.

“Di mana masyarakat bisa juga berkolaborasi dengan berkreasi membuat kegiatan acara tertentu di museum,” tukasnya.
Sebagai orang Betawi tulen, Chairil Gibran Ramadhan memberikan alasan kenapa dirinya fokus meneliti dan menulis sejarah Betawi.
“Betawi itu suku yang unik dan sukar dikorek saat kita minta keterangan. Butuh proses berulang kali beradaptasi dengan orang suku Betawi. Selain itu, literatur buku tentang Betawi itu langka. Dan juga penulis sejarah dan sastra puisi Betawi itu jarang loh,” cetus Bang CGR.
“Kenapa memilih Wapen Van Holland jadi salah satu visual judul di buku itu dan diangkat menjadi sastra puisi? Ya, supaya terdengar unik dan jadi pematik agar memicu orang baca buku karya saya,” tandasnya.
Bang CGR juga mengungkapkan, orang Belanda mengapresiasi buku karyanya yang membahas Betawi, Batavia, Jakarta, karena unik dan langka. Dan, kini sudah dikoleksi oleh pihak Universitas Leiden Belanda.
Acara itu dimeriahkan pembacaan puisi dari para penyair, A. Rizal (Sanggar silat Cingkrik S3 rawa belong), Rr.Dyah Kancono Pustika Dewi (Forum Penyair TIM).
Nampak hadir dalam kegiatan itu, Sihar Ramses Simatupang (Penyair dan wartawan), Abdul Munaf (Guru Besar Penguruan Cingkrik S3 Rawa Belong). (Pram)






