Babak Baru Kehidupan Ibu Nurlaila: “Rumah Ini Bukan Sekadar Bangunan, Tapi Tempat Kami Bahagia”

NEWS239 Dilihat

Bekasi, Nasionalreview  – Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya didefinisikan sebagai kumpulan bata, semen, dan atap. Namun, bagi Nurlaila (45), rumah adalah wadah tempat martabat manusia dijaga, rasa aman dipulihkan, dan kebahagiaan keluarga ditumbuhkan. Rabu,(20/5/26)

Di kediamannya yang baru di RT 03/RW 09, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Nurlaila tampak berbeda. Postur tubuhnya lebih tegak, sorot matanya lebih tenang, dan senyumnya lebih lepas. Perubahan fisik itu sebanding lurus dengan transformasi huniannya yang kini telah rampung 100 persen melalui program rehabilitasi rumah tidak layak huni (Rutilahu) dalam rangka Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128.

“Rumah ini bukan sekadar bangunan bagi kami. Ini adalah tempat di mana kami akhirnya bisa merasa bahagia,” ujar Nurlaila, Rabu (20/5/2026), sambil mengelus lembut kusen jendela kamar anaknya yang baru saja dicat rapi.

Pernyataan Nurlaila mungkin terdengar sederhana, namun sarat dengan makna mendalam. Sebelum renovasi, rumahnya nyaris tidak memiliki privasi maupun proteksi dari alam. Dinding yang rapuh dan atap yang bocor bukan hanya masalah struktur fisik, tetapi juga sumber stres psikologis yang terus-menerus menggerogoti ketenangan batin keluarganya.

“Dulu, kami hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali angin kencang atau hujan deras, kami merasa kecil dan tak berdaya. Rasa ‘tidak layak’ itu bukan hanya soal kondisi bangunan, tapi juga soal perasaan kami sebagai manusia,” kenang Nurlaila.

Kini, perasaan itu telah berganti. Dengan lantai yang sudah disemen, dinding yang kokoh, dan sirkulasi udara yang baik, Nurlaila dan suaminya, Mahmud, kembali menemukan harga diri mereka. Mereka tidak lagi merasa malu mengundang tetangga berkunjung. Anak-anak mereka pun bisa belajar dan bermain dengan leluasa di dalam rumah yang sehat.

Keberhasilan penuntasan renovasi rumah Nurlaila menjadi salah satu bukti nyata bahwa program TMMD Ke-128 yang digagas oleh Kodim 0507/Bekasi tidak hanya berfokus pada output fisik, tetapi juga pada dampak psikososial bagi penerima manfaat.

Komandan Kodim (Dandim) 0507/Bekasi, Kolonel Arm Krisrantau Hermawan, S.H., M.I.Pol., menekankan bahwa pendekatan humanis adalah kunci dari setiap kegiatan TMMD.

“Kami menyadari bahwa membangun rumah berarti membangun harapan. Ketika Satgas TMMD bekerja di sini, mereka tidak hanya membawa material bangunan, tetapi juga membawa kepedulian. Kami ingin warga seperti Ibu Nurlaila merasa bahwa mereka diperhatikan, dihargai, dan tidak sendirian,” ungkap Dandim Krisrantau saat bersilaturahmi dengan keluarga tersebut.

Sinergi antara personel TNI, pemerintah lokal, dan warga Jatirangga menciptakan ekosistem gotong royong yang hangat. Proses pembangunan yang berlangsung beberapa minggu itu diwarnai dengan canda tawa, berbagi makanan, dan saling bantu, yang secara tidak langsung telah mempererat ikatan sosial di lingkungan RT 03.

Suami Nurlaila, Mahmud, menambahkan bahwa bantuan ini memberikan efek domino positif bagi kehidupannya. Dengan rumah yang aman, ia bisa bekerja dengan lebih tenang tanpa harus memikirkan kondisi hunian keluarganya di siang hari.

“Kami merasa dihargai sebagai manusia. Itu hal yang paling berharga. Terima kasih kepada Bapak-Bapak TNI yang telah bekerja keras hingga keringat mereka menetes di tanah ini. Rumah ini adalah saksi bisu kebaikan hati mereka,” kata Mahmud dengan nada penuh hormat.

Di sudut ruang tamu yang kini tertata apik, Nurlaila menyimpan sebuah foto keluarga lama di samping foto baru mereka di depan rumah yang telah direnovasi. Dua gambar itu bercerita tentang perjalanan panjang dari keterbatasan menuju kecukupan.

Bagi Nurlaila, penuntasan 100 persen renovasi rumahnya menandai berakhirnya masa sulit dan dimulainya babak baru kehidupan. Babak di mana ia tidak lagi khawatir tentang kebocoran atap, melainkan sibuk merencanakan masa depan anak-anaknya di lingkungan yang mendukung.

“Alhamdulillah, cukup sekian kata-kata saya. Yang penting, hati kami sudah penuh dengan rasa syukur. Rumah ini adalah anugerah, dan kebahagiaannya akan kami jaga bersama,” tutup Nurlaila sambil menawarkan teh manis kepada tamu yang hadir, sebuah gestur keramahan yang kini bisa ia lakukan dengan bangga di rumahnya sendiri.

(Egi)