Jakarta, nasionalreview – Di bawah terik matahari Senin lalu, pemandangan unik terlihat di sebuah lapangan voli sederhana di Kepulauan Seribu.
Tidak ada barisan militer yang kaku, tidak ada aba-aba komando yang menggema. Yang ada hanyalah tawa, sorak-sorai, dan bola voli yang melambung di antara prajurit TNI berseragam olahraga dan siswa SMA setempat. Minggu (31/5/2026)
Ini bukan sekadar kegiatan rekreasi. Ini adalah wajah baru dari pendekatan Kodam Jaya terhadap masyarakat, khususnya generasi muda, melalui program “Jaga Raga” yang diinisiasi langsung oleh Pangdam Jaya, Letjen TNI Deddy Suryadi.
Menghapus Sekat Atasan-Bawahan
Program ini membawa filosofi sederhana namun kuat: untuk benar-benar memahami dan menjaga generasi muda, TNI harus turun dari “menara” formalitasnya. Personel Kodam Jaya yang hadir sengaja melepas seragam dinas harian mereka. Mereka berbaur, bermain, dan berinteraksi sebagai teman sebaya.
“Bagi kami, mendatangi Kepulauan Seribu adalah wujud nyata komitmen untuk saling jaga,” ujar perwakilan tim Kodam Jaya. “Kami melepas seragam formal untuk memastikan anak-anak muda di wilayah kepulauan merasa bahwa pendampingan ini setara, bukan menggurui.”
Langkah strategis ini dinilai efektif untuk menjembatani kesenjangan persepsi yang sering kali muncul antara aparat dan remaja. Dengan suasana yang cair, dialog tentang masa depan, cita-cita, hingga tantangan hidup dapat mengalir lebih natural.
Voli Sebagai Media Pendidikan Karakter
Di balik permainan voli yang tampak santai, terselip kurikulum karakter yang serius. Setiap smash mengajarkan ketegasan, setiap passing mengajarkan kepercayaan, dan setiap kekalahan mengajarkan resiliensi atau ketangguhan mental.
Letjen TNI Deddy Suryadi melalui program Jaga Raga ingin menekankan bahwa kekuatan fisik harus seimbang dengan kekuatan mental. Nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah tidak lagi diajarkan melalui ceramah satu arah di dalam kelas, melainkan dialami langsung (experiential learning) di atas lapangan.
“Siswa belajar bahwa untuk memenangkan pertandingan, mereka butuh disiplin dan kerjasama. Itu sama halnya dengan menghadapi tantangan hidup,” tambah salah satu pelatih pendamping.
Menjangkau Pelosok, Merata ke Semua Sekolah
Pemilihan lokasi di Kepulauan Seribu bukanlah tanpa alasan. Wilayah kepulauan ini sering kali memiliki keterbatasan akses dibandingkan daratan utama Jakarta. Kehadiran Kodam Jaya di sini adalah pesan tegas bahwa perhatian negara, dalam hal ini melalui pendekatan kemanusiaan TNI, menjangkau hingga ke titik terpencil.
Kodam Jaya menegaskan bahwa kegiatan ini hanyalah awal. Ada rencana besar untuk menjadikan “Jaga Raga” sebagai program berkelanjutan yang akan bergulir ke sekolah-sekolah lain di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
“Harapan kami, kegiatan positif ini tidak berhenti di sini. Kami ingin ini menjadi gerakan massal untuk bersama-sama menyiapkan generasi muda yang tangguh, sehat, dan siap menyongsong masa depan Indonesia,” tutup pihak Kodam Jaya.
Dengan inovasi seperti Jaga Raga, Kodam Jaya membuktikan bahwa pertahanan negara yang paling kokoh dimulai dari hati dan karakter generasi mudanya. Dan kadang, itu semua bermula dari sebuah bola voli yang dimainkan bersama. (Egi)






