Republik Jengkol Bertahan 13 Tahun, Tony Angkat Jengkol Jadi Kuliner Andalan di Jakarta Timur

Kuliner, News209 Dilihat

Jakarta, nasionalreview  –  Kedai kuliner Republik Jengkol yang berlokasi di Jalan Raya Kerja Bakti, tepatnya di depan Masjid Jami Attarbiyah Pusdiskes, Kampung Makasar, Jakarta Timur, telah bertahan selama 13 tahun. Kedai kuliner yang berdiri pada 2012 ini mengusung jengkol sebagai menu utama.

Pemilik Republik Jengkol, Tony, mengatakan bahwa ide usaha tersebut berawal dari kegemarannya melihat sang istri menyantap jengkol serta ketertarikannya terhadap informasi manfaat kesehatan dari bahan pangan tersebut.

“Awalnya istri saya memang doyan jengkol. Kemudian saya menonton tayangan televisi yang menjelaskan manfaat jengkol untuk kesehatan, mulai dari pencernaan hingga jantung,” kata Tony saat ditemui di Jakarta Timur.

Dia menambahkan, dirinya juga mempelajari sejumlah riset luar negeri yang menyebutkan jengkol memiliki potensi kesehatan yang baik apabila diolah dengan benar.

Dari situ, ia mulai mencoba mengolah jengkol meski sebelumnya mengaku tidak menyukai bahan makanan tersebut.

“Dulu saya anti jengkol. Tapi karena sejak kecil saya tertarik dengan herbal, saya coba olah sendiri tanpa riset khusus, dan ternyata hasilnya diterima masyarakat,” ujarnya.

Tony menjelaskan, konsep Republik Jengkol sejak awal memang difokuskan pada olahan jengkol tanpa mencampurkan banyak menu lain. Nama “Republik” dimaknai sebagai upaya mengembalikan cita rasa kuliner ke selera masyarakat.

“Dari awal konsepnya memang jengkol. Menu lain yang sempat ada saya hilangkan supaya fokus,” tukasnya.

Meski demikian, Republik Jengkol tetap menyediakan beberapa menu pendamping seperti Soto Betawi dan menu Tombo Kangen berupa mie godog khas Yogyakarta.

Terkait proses pengolahan, Tony menuturkan, kunci utama ada pada pemilihan jengkol yang matang dan teknik pengolahan yang tepat agar tidak menimbulkan aroma menyengat.

“Jengkol harus benar-benar tua, bentuknya bulat dan padat. Direndam semalaman, lalu dipresto dengan lengkuas dan daun salam untuk mengurangi zat kapur, serta daun jeruk dan jeruk nipis untuk aroma,” urainya.

Popularitas Republik Jengkol mulai meningkat sejak mendapat liputan program kuliner televisi nasional sekitar 2014–2015, yang memberikan penilaian tinggi terhadap cita rasa menu jengkol yang disajikan.

“Sejak itu Republik Jengkol semakin dikenal dan pengunjung terus bertambah,” papar Tony.

Hingga kini, Republik Jengkol tetap konsisten menyajikan aneka olahan jengkol dan menjadi salah satu destinasi kuliner khas di Jakarta Timur. (Egi)