Wajah Baru Jantung Kota: Setelah 26 Tahun Menunggu, Jalan Juanda dan Pasar Baru Bekasi Akhirnya “Bernapas” Lagi

MEGAPOLITAN, NEWS340 Dilihat

Bekasi, Nasionalreview – Bayangkan sebuah arteri utama kota yang selama lebih dari dua dekade tersumbat oleh aktivitas perdagangan liar, trotoar yang hilang, dan genangan air. Itulah potret Jalan Juanda dan kawasan Pasar Baru Bekasi selama 26 tahun terakhir. Namun, kali ini, perubahan besar akhirnya benar-benar terjadi.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, tidak lagi hanya berbicara tentang rencana. Ia turun langsung memantau transformasi fisik yang sedang berlangsung di salah satu titik paling vital di Kota Bekasi. Tujuannya jelas: mengembalikan fungsi ruang publik dan menciptakan ekosistem perdagangan yang tertib, nyaman, dan manusiawi.

“Sudah Saatnya Berubah”

Tri Adhianto mengakui bahwa stagnasi kondisi kawasan ini telah berlangsung terlalu lama. “Sejak saya bertugas di Bekasi sekitar 26 tahun lalu, kondisinya kurang lebih sama. Karena itu, pemerintah hadir untuk melakukan perubahan bertahap agar kawasan ini menjadi lebih baik,” ujarnya, menyoroti urgensi pembenahan total terhadap “jantung” kota tersebut.

Perubahan terbesar terlihat pada pendekatan terhadap para pedagang kaki lima (PKL). Alih-alih menggusur tanpa solusi, Pemkot Bekasi memilih jalur relokasi humanis. Para pedagang yang sebelumnya memadati badan jalan dan trotoar kini diarahkan masuk ke dalam gedung pasar melalui proses pendataan terbuka. Mereka diberikan akses ke los dan lapak yang telah disiapkan.

“Kami tidak mengurangi hak pedagang untuk berusaha. Justru kami menyiapkan fasilitas di dalam pasar agar aktivitas perdagangan lebih nyaman bagi pedagang maupun pembeli,” tegas Tri.

Lebih dari Sekadar Memindahkan Pedagang

Penataan ini bukan sekadar memindahkan orang dari luar ke dalam bangunan. Ini adalah operasi bedah infrastruktur menyeluruh. Sejumlah pekerjaan teknis tengah dikerahkan untuk memperbaiki wajah kawasan:
* Drainase Modern: Pembangunan sistem drainase u-ditch untuk mengalirkan air lancar ke Kali Baru, mengakhiri masalah genangan kronis.
* Trotoar Ramah Pejalan Kaki: Trotoar diperlebar dan ditata ulang, mengembalikan hak pejalan kaki atas ruang publik yang aman.
* Penerangan dan Emplasemen: Pemasangan lampu penerangan baru dan perbaikan area depan pasar untuk meningkatkan estetika dan keamanan malam hari.

Integrasi penataan juga merambah ke area sekitarnya. Anggaran sebesar Rp5 miliar telah dialokasikan untuk merevitalisasi Lapangan Margahayu yang terletak tak jauh dari pasar, menjadikannya pusat aktivitas komunitas yang lebih hidup.

Ekonomi Mengalir Saat Ruang Publik Nyaman

Tri Adhianto memiliki visi ekonomi di balik penataan fisik ini. Ia percaya bahwa kenyamanan ruang publik adalah magnet bagi pengunjung. “Kalau ruang publiknya nyaman, masyarakat akan datang. Ketika aktivitas meningkat, ekonomi bergerak, UMKM hidup, dan pedagang berkembang,” jelasnya.

Meski optimis, Pemkot Bekasi menyadari tantangan pasca-relokasi. Pengawasan berkelanjutan akan dilakukan untuk mencegah pedagang kembali menyerobot trotoar. Namun, pendekatan utama tetaplah edukasi dan membangun kesadaran kolektif bahwa penataan ini demi kepentingan bersama.

Dalam satu hingga dua bulan ke depan, warga Bekasi diharapkan sudah bisa menyaksikan wajah baru Jalan Juanda. Sebuah transformasi dari kawasan yang semrawut menjadi koridor perdagangan modern yang tertib, sekaligus menghormati sejarah Jalan Juanda sebagai salah satu nadi utama Kota Bekasi.

  1. (Egi)