Jakarta, nasionalreview – Perang yang terjadi di Timur Tengah dan melemahnya nilai tukar rupiah tidak banyak berpengaruh pada ketersediaan pangan di Indonesia.
Demikian ditegaskan Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Andrian Lame Muhar.
“Soal kebutuhan pokok kan sebetulnya kalau swasembada pangan, harusnya tidak terpengaruh,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
‘”In Shaa Alllah pangan di dalam negeri aman. Kalau harga naik turun masih dalam batasan normal.”
Dia mencontohkan soal kenaikan beras bukan karena terjadinya perang atau kurs rupiah melemah melainkan karena distribusi dan transportasi.
“Karena transportasi, perjalanannya jadi agak mahal,” terang Andrian.
Dia kembali menuturkan, setelah lebaran, pedagang sudah kembali ke pasar. Sehingga di pasar rakyat sudah normal lagi. Bahan pangan sudah masuk lagi.
“Pemerintah juga membantu lewat gerakan pangan murah, yang sedang digalakkan di pasar-pasar rakyat daerah. Dan itu sangat membantu,” tandasnya.
Menurut dia, yang menjadi masalah adalah barang yang diimpor. “Kalau barang importasi yang bermasalah, seperti bawang putih.Dan gula rafinasi juga jadi masalah,” tukas Andrian.
Oleh karena itu, sambungnya, dalam kondisi sekarang importasi agak diperketat.
Revitalisasi Pasar
Andrian juga mengungkapkan soal pertemuannya dengan Menko Pangan Zulkifli Hasan yang membicarakan transportasi logistik dan revitalisasi pasar.
Dia menyatakan, Menko Pangan sangat mensupport Inkoppas. “Kita cerita soal transportasi yang sangat sulit. Menko Pangan akan mendorong Menhub agar ada transportasi subsidi,” cetusnya.
“In Shaa Allah tanggal 14 April 2026 kita diundang makan bersama dengan koperasi pedagang pasar anggota Inkoppas.”
Dalam pertemuan dengan Menko Pangan, juga dibatalkan soal revitalisasi pasar.
“Pasar tidak hanya dilihat dari tanahnya. Tapi tempat dan fasilitas berjualan juga harus diperhatikan. Makanya pasar direbitalisasi,” urainya.
“Jangan sampai bahan pangan ada, tapi fasilitas pasarnya tidak mumpuni, sehingga orang malas berjualan. Harrga naik bukan karena bahan pangannya, tapi karena tenpat berjualannya yang semakin sedikit.”
Oleh karena ini, sambungnya, pemerintah mempercepat revitalisasi pasar rakyat. Pasar rakyat yang sudah tidak layak lagi direnovasi, sehingga menjadi pasar rakyat yang layak.
“Tahun ini sudah ada enam pasar bantuan PU sudah mulai bergerak . Dan Inkoppas melalui BOT, dana bantuan pedagang pasar untuk revitalisasi sudah mulai bergerak. Dari BUMD, Perumda, juga sudah mulai bergerak merenovasi pasar,” ucapnya.
Andrian mengemukakan, revitalisasi pasar dilakukan di seluruh Indonesia. Ada sekitar 13 ribu pasar akan direvitalisasi, yang hak guna pakainya habis dan pasar yang sudah tidak layak digunakan. Agar pasar rakyat tetap ada dan tumbuh.
“Apalagi dengan adanya koperasi merah putih, pasar rakyat dibutuhkan. Apabila mereka didorong ke hulu, otomatis mereka berjualan ke pasar rakyat yang direvitalisasi dengan baik,” jelasnya. (Wan)






