Pedagang Hentikan Penjualan, Inkoppas Minta Pemerintah Stabilkan Harga Daging Sapi

Ekonomi, Nasional, News166 Dilihat

Jakarta, nasionalreview -Melonjaknya harga daging sapi membuat pedagang daging di sejumlah pasar di Jabodetabek dan daerah melakukan aksi tidak menjual daging sapi untuk sementara.

Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) pun menyikapi apa yang dilakukan pedagang sapi tersebut. Menurut Sekretaris Umum Inkoppas, Andrian Lame Muhar, aksi yang dilakukan para pedagang sapi tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap tingginya harga daging sapi.

“Saya sudah dapat info ada beberapa pasar, seperti Pasar Rawamangun, katanya pedagang aksi tidak berjualan terkait naiknya harga daging. Ya, ini bentuk keptihatinan terhadap kenaikan harga daging sapi,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

“Kalau kenyataan sekarang, menjual daging sapi ke masyarakat dengan harga tinggi, sementara daya beli menurun pasti pembelian akan berkurang,” tukasnya.

Menurut Andrian Lame, daripada para pedagang mengeluarkan anggaran terlalu tinggi untuk menyimpan stok daging, maka mereka lebih baik sementara berhenti jualan.

Bagi masyarakat sendiri, urainya, sangat berdampak. Dengan harga Rp140.000 hingga menembus Rp200.000 berakibat daya beli berkurang.

Stabilkan Harga

Menghadapi kondisi ini, sambung Andrian Lame, para pedagang meminta pemerintah segera bertindak untuk menstabilkan harga daging tersebut.

Andrian Lame mengakui, memang sudah sekitar sebulan ini harga daging sapi melonjak. “Tapi merangkak pelan-pelan naiknya.”

“Kami dengar dari kolega bahwa Direktorat Jenderal Perternakan Kementan berjanji untuk berusaha menstabilkan harga daging sapi,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah lebih aware terkait hal ini. Yang penting stok di dalam negeri tidak berkurang, sehingga barang bisa disalurkan ke masyarakat

Beberapa Faktor Penyebab

Andrian Lame kemudian mengungkapkan beberapa penyebab tingginya harga daging sapi.

“Seperti importasi yang sedang diperketat. Kemudian negara pengekspor daging sedang menata ulang terkait kebijakannya,” terangnya.

Dia menuturkan, impor anakan sapi membutuhkan biaya tambahan buat makan, tempat. Apalagi cuaca sedang buruk. Ditambah akan memasuki bulan Ramadhan, orang akan berbondong-bondong akan beli daging.

“Jadi permintaan banyak, sementara pasokan sedikit. Ketimpangan antara permintaan dan suplay barang. Kemudian ditambah lagi daya beli menurun,” ucapnya.

Lalu, para pengusaha mempersiapkan untuk dapur umum BGN untuk MBG. “Jadi banyak faktor,” jelasnya.

Inkoppas ,lanjutnya, memberikan sedikit saran terkait permasalahan tersebut. Andrian Lame menandaskan, pemerintah kan yang mengatur kran impor. Kalau memang di dalam negeri membutuhkan daging sapi, maka dibukalah kran impor itu.

“Pemerintah harus melihat, mana barang impor yang diperlukan untuk negara kita dan mana yang harus ditahan.”

“Kemudian dibuka kerja sama bilateral dengan negara-negara produsen. Agar mereka memberikan harga khusus,” cetusnya.

Dia kembali menegaskan, jangan sampai importasi dikuasai oleh segelintir pengusaha-pengusaha saja.

“Kalau bisa barang importasi langsung masuk ke pasar-pasar rakyat. Sehingga bisa membelinya dengan mudah.”

“Karena Indonesia tujuan ekspor hewani, khususnya sapi. Peternak juga didorong meningkatkan kualitas daging lokal agar bisa bersaing di pasaran,” tandanya. (Wan)