Solidaritas Alumni CAAIP untuk Sumatera, Bantuan Kedua Tiba di Aceh dan Tapanuli Tengah

Nasional, News191 Dilihat

Jakarta, nasionalreview – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Civitas Alumni Akademi Ilmu Pelayaran (CAAIP). Melalui gerakan kemanusiaan bertajuk CAAIP Peduli Sumatera, para alumni lintas angkatan bersatu menyalurkan bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Aksi ini menjadi wujud nyata empati dan solidaritas insan pelayaran terhadap saudara-saudara sebangsa yang tengah menghadapi masa sulit.

Gerakan kemanusiaan ini diinisiasi oleh Budi Pramono (Angkatan ke-33) dan D. Ambarita (Angkatan ke-37) yang mengajak para alumni CAAIP untuk bersama-sama mengambil peran dalam membantu korban bencana. Inisiatif tersebut lahir dari kesadaran kolektif bahwa jejaring alumni tidak hanya berfungsi sebagai ikatan profesi dan nostalgia masa pendidikan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Pada tahap awal, penyaluran bantuan dilakukan melalui Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, yang mewakili Direktur dan Sivitas Akademika, serta mendapat dukungan dari Corps Alumni Akademi Pelayaran Jakarta. Bantuan pertama ini menjadi langkah awal gerakan CAAIP Peduli Sumatera dalam merespons dampak bencana banjir yang melanda beberapa wilayah.

Memasuki tahap bantuan kedua, CAAIP kembali menyalurkan bantuan sosial ke dua wilayah terdampak, yakni Aceh serta Tapanuli Tengah–Kota Sibolga, Sumatera Utara. Penyaluran bantuan dilakukan dengan melibatkan langsung para alumni yang berada di wilayah tersebut. Di Aceh, distribusi bantuan diwakili oleh Aidil (Angkatan ke-46) yang turun ke lapangan mendampingi proses penyaluran kepada warga terdampak. Sementara itu, di Tapanuli Tengah dan Sibolga, aksi kemanusiaan ini dikoordinasikan oleh Ibnu (Angkatan ke-61).

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil gotong royong alumni CAAIP yang tersebar di berbagai daerah. Seluruh proses dilakukan secara terencana dan bertanggung jawab, mulai dari pendataan kebutuhan warga, koordinasi dengan tokoh masyarakat dan relawan lokal, hingga pengemasan bantuan agar tepat sasaran. Di tengah keterbatasan yang dialami para korban bencana, kehadiran alumni CAAIP membawa lebih dari sekadar bantuan logistik. Kehadiran mereka juga menjadi simbol kepedulian dan penguat semangat bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.

Ibnu menyampaikan bahwa keterlibatan alumni dalam aksi ini dilandasi oleh rasa tanggung jawab sosial serta nilai kekeluargaan yang telah tertanam sejak masa pendidikan di dunia pelayaran. “Ini bukan sekadar berbagi bantuan, tetapi bentuk kepedulian dan komitmen kami untuk hadir bersama masyarakat di saat-saat sulit,” ujarnya.

Melalui program CAAIP Peduli Sumatera, para alumni berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat terdampak sekaligus menumbuhkan kembali semangat dan harapan. Gerakan ini juga menegaskan bahwa jejaring alumni CAAIP tidak berhenti pada ikatan masa lalu, melainkan terus bergerak aktif sebagai kekuatan sosial yang bermanfaat bagi sesama.

“Solidaritas alumni tidak berhenti pada penggalangan bantuan semata, tetapi juga komitmen untuk terus hadir bersama masyarakat,” pungkas D. Ambarita (Angkatan ke-37), menegaskan ruh kebersamaan yang menjadi dasar gerakan CAAIP Peduli Sumatera. (Red)